Baca kisah Jono
Cerita utama yang menjadi benang merah semesta siomay dan pilihan hidup.
Arik dulu selalu bilang mereka sama. Bangun subuh saat langit masih gelap, mendorong dagangan dengan mata setengah tertutup, tubuh bau siomay bercampur minyak, lalu pulang sore dengan kaki pegal dan punggung terasa panas seperti ditindih hari itu sendiri.
Menurut Arik, perbedaannya cuma satu: alat. Jono pakai sepeda butut dengan rantai sering copot, sementara ia mendorong gerobak kayu yang meski tua, tetap terlihat seperti pedagang sungguhan.
Gerobak itu memang sudah lama, catnya mengelupas dan rodanya berisik setiap kali melewati jalan berlubang. Tapi justru itu yang membuat Arik merasa lebih niat, lebih serius, lebih pantas disebut pekerja keras.
Setiap kali Arik membanggakan gerobaknya, Jono hanya tersenyum. Tidak membantah, tidak mengiyakan. Senyum yang sama, seperti biasa.
Mereka mangkal di area yang sama. Tidak selalu berdampingan, tapi cukup dekat untuk saling menyapa. Kadang saling mengisi air, kadang berbagi kabar razia, kadang hanya mengangguk tanpa kata.
Hari-hari berjalan pelan dan berat. Tapi bagi Jono, ritme itu tetap dijalani tanpa banyak perubahan.
Bagi Arik, perlahan-lahan ritme itu mulai terasa menekan.
Setiap kali mendorong gerobak, pikiran Arik tidak lagi penuh dengan pelanggan hari itu. Yang muncul justru pertanyaan yang sama, berulang-ulang, sampai terasa seperti dengung di kepala: sampai kapan hidupnya akan seperti ini.
Jono hampir tidak pernah mengeluh. Ia datang pagi, pulang sore, lalu kembali lagi esok hari dengan wajah yang sama. Ketidakmengeluhan itulah yang anehnya membuat Arik kesal.
Suatu siang Arik bertanya, setengah bercanda setengah kesal, kenapa Jono tidak pernah mengeluh.
Jawabannya sederhana. Mengeluh tidak membuat siomay laku.
Arik tertawa saat itu, tapi ada rasa yang tidak ikut tertawa. Rasa iri yang tipis, lalu perlahan mengendap.
Sejak hari itu, Arik mulai sering pulang lebih cepat. Kadang alasannya capek, kadang sepi, kadang cuma ingin berhenti lebih dulu.
Pelanggan berkurang bukan karena siomaynya berubah rasa, tapi karena Arik semakin sering tidak ada di tempat.
Kata “besok” pelan-pelan berubah dari janji menjadi kebiasaan menunda.
Suatu sore, mereka duduk di pinggir trotoar sambil minum kopi sachet. Jono bercerita tentang sebuah sistem yang sedang ia pelajari, pelan-pelan, tanpa terburu-buru.
Sistem itu bernama RP888. Jono tidak menjelaskannya seperti orang menjual mimpi. Tidak ada janji cepat kaya, tidak ada cerita instan.
Ia hanya bicara soal belajar, struktur, dan langkah kecil yang dijalani terus-menerus.
Arik mendengarkan, tapi hari itu rasa lelah lebih kuat daripada rasa ingin tahu. Kepalanya penuh, badannya berat.
Saat Jono bertanya apakah Arik mau ikut belajar, jawabannya keluar begitu saja: nanti saja.
Kata itu diucapkan santai, tanpa beban, seolah tidak sedang menutup sebuah pintu.
Minggu-minggu berikutnya, Jono tetap datang pagi dengan ritme yang sama. Sepedanya masih itu-itu saja, tapi langkahnya terlihat lebih teratur.
Arik justru semakin sering absen. Gerobaknya dibiarkan di pojok rumah, rodanya jarang dilumasi, baut yang lepas dibiarkan.
Suatu hari Arik datang lebih siang dari biasanya. Tempat mangkalnya sudah diisi orang lain.
Pelanggan lama tidak lagi menunggu.
Seorang ibu hanya berkata, dengan nada biasa, bahwa Arik sekarang jarang kelihatan.
Pertengkaran kecil terjadi di hari yang panas. Arik sedang bad mood ketika melihat Jono lewat sambil menuntun sepedanya.
Arik menyindir, bertanya apakah Jono tidak capek membawa hidupnya terlalu serius.
Jono berhenti sejenak, lalu menjawab pelan. Ia tidak serius. Ia hanya konsisten.
Arik menganggap itu sama saja. Tapi Jono menggeleng dan mengatakan itu berbeda.
Perbedaan yang waktu itu belum ingin Arik pahami.
Nama Jono mulai dikenal pelan-pelan, tanpa poster, tanpa cerita besar. Hanya lewat kabar kecil dari mulut ke mulut.
Bagi Arik, kabar itu terdengar seperti hujan di balik tembok. Jelas, tapi terasa jauh.
Gerobaknya kini benar-benar berhenti. Roda macet, kayu retak, kain penutup kusam.
Suatu sore Arik berdiri di samping gerobak itu. Tangannya menyentuh besi yang dingin, matanya menatap roda yang tidak lagi berputar.
Penyesalan datang bukan sebagai ledakan, tapi tekanan pelan yang menghimpit dada.
Arik sadar ia tidak gagal karena kurang alat. Ia gagal karena terlalu sering menunda.
Kata “nanti” ternyata bisa berarti tidak pernah.
Ia tidak menyalahkan Jono. Jono hanya pernah menawarkan.
Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa keputusan untuk menunda selalu datang dari dirinya sendiri.
Suatu hari Arik melihat Jono dari jauh, masih dengan sepeda yang sama, tapi wajah yang jauh lebih tenang.
Mereka saling mengangguk, tanpa mendekat.
Di sana Arik akhirnya mengerti. Bukan sepeda atau gerobak yang menentukan.
Yang menentukan adalah siapa yang tetap berjalan saat lelah.
Gerobak itu berhenti bukan karena rusak sepenuhnya, tapi karena terlalu lama dibiarkan diam.
Cerita utama yang menjadi benang merah semesta siomay dan pilihan hidup.
Kumpulan cerita naratif yang saling terhubung lewat tema proses dan keputusan.
Benang merah tulisan: proses, sistem, konsistensi, dan keputusan kecil.
Daftar semua tulisan yang sudah terbit.